De Ferdinan Saragih, lahir di Sigodang, Simalungun, 4 Desember 1988. Mahasiswa Sastra Indonesia UPI Bandung. Mengelola Komunitas Getah Pena. Karyanya pernah di publikasikan berbagai media massa, juga termuat di dua antologi bersama.
Derap langkah muda-mudi berseragam putih-putih: kemejanya lengan panjang berkancing empat, dua kantung bajunya seperti jas almamater, tertempel didada kemeja kiri MPG1 emas, dan dua pangkat lekat di bahu kanan-kirinya. Rok dasar lipat tiga sedengkul untuk para mudi, dan celana untuk para muda.
Dilengkapi sarung tangan putih garis tiga, juga kacu merah melingkar pada lehernya. Tak lupa peci hitam yang melekat garuda emas dibelah kirinya–lekat pada rambut di kepala mereka: mudinya berambut blow–dua jari bawah telinga, mudanya cepak layaknya ABRI.
Petugas Tujuh Belas Agustus itu berpasukan inti (delapan): terdiri dari Tiga Tiang, Baki dan pengiringnya. Pada Tiga Tiang terdapat petugas Penggerek (kiri) dan Pengibar (kanan) yang berkewajiban mengibarkan Sang Merah Putih sampai keatas tiang yang tingginya tujuh belas meter. Tentunya tarikan tali–pembopong bendera–memiliki hitungan yang pas agar bendera tepat di puncak seiring melantunya lagu Indonesia Raya. Posisi tengah pada tiga tiang berfungsi sebagai penyambut Bendera Pusaka dari sang Baki.
Haruslah mudi pilihan yang berkewajiban membawa Baki. karena mudi itu harus bertatapan langsung pada Presiden RI–menyambut sang Saka Merah Putih dari mimbarnya. Pembawa Baki juga haruslah mudi yang memiliki lengan yang kuat, sebab Baki Nasional dalam membopong Bandera Pusakan memiliki berat kira-kira 6 kilo. Biasanya pembawa Baki tahan menghabiskan berpuluh-puluh puss up agar lengannya sepadan bersama Baki.
Pasukan Tujuh Belas menjadi sayap sang pasukan inti–Delapan, dan pasukan Empat Lima merupakan anggota keamanan Negara. Sejatiya pasukan Delapan dan Tujuh Belas adalah siswa-siswi SMA/SMK/MA se-Indonesia, yang masih duduk di kelas sepuluh dan sebelas. Mereka diseleksi dengan ketat dalam beberapa tahap dan persyaratan khusus. Persyaratan itu dinilai dari berat dan tinggi tubuh yang ideal, prestasi okey, tidak berpenyakitan: secara tampak atau tidak tampak–seperti penyakit kulit atau penyakit dalam–yang mengurangi kekuatan fisik, bahkan, kelengkapan gigi pun menjadi salah satu penilaian yang sungguh-sungguh diperhatikan. selain memiliki fisik yang kuat, mereka juga harus cantik-tampan disertai pekerti luhur. Menguasai ilmu akademik, pun non akademik. Serta yang diutamakan ialah gerakan LTBB-nya. Singkatan dari Latihan Teknik Baris-Berbaris. Lalu seleksinya bertahap, dimulai dari tingkat sekolah yang diseleksi oleh Pembina Paskibra masing-masing, lalu mereka diutus mewakili sekolahnya ke tingkat kota, hingga sampai pada tingkat Provinsi dan Nasional.
Amatilah nada hentakan sepatu PDH itu. Langkahnya serempak. Seirama. Geraknya sungguh tegap, segak. Perawakannya terpelajar, bersih, rapi dan disiplin. Aduhai, muda-mudi yang tertata dalam barisannya itu terlihat amat elegan, kamu membaca dalam senyum simpulnya. Apalagi saat barisan tiga banjar bersaf itu berpencar–bubar dalam barisan rapi teratur–serentak membuat sayap-sayap pengiring sang Tiga Tiang. Begitu estetis jarak-jarak mereka. Sebenarnya, yang membuatmu terpukau bukanlah kesepadanannya mengatur teknik beris-berbaris. Tapi, kau pasti terpukau pada gerak patah-patahnya yang lembut. Dalam hentakannya itu kautemukan kehalusan geraknya, bahkan mungkin lebih cantik dari yang kau pandang dalam gerakan si tari sanggar yang tampil di lapangan berumput hijau itu sedarinya–dalam pesta perayaan Tujuh Belas Agustus di Istanah Presiden ini.
Sejatinya, satu dari semua mata yang terlempar pada barisan Paskibraka itu ada satu hati yang terpaut ingin bergabung dalam barisan indahnya. Kamu bercita-cita menjadi pembawa Baki, Penggerek Bendera, Pengibarnya dalam pasukan inti. Atau kau masuk dalam pasukan Tujuh Belas saja sudah merupakan suatu keberuntungan. Ah, kau ingin sekali bergerak patah-patah seperti mereka.
♦♦♦
Cita-citaku menjadi Paskibraka Sejati. Kata orang tubuhku tinggi, wajahku cantik dan prestasiku gemilang. Awal tahun di SMA baruku, kupilih organisasi Paskibra. Disana kulatih fisik dan mentalku menjadi Paskibraka Sejati. Fajar menyingsing aku telah siap dalam kostum olahraga, sarapan susu kedelai dan telur ayam setengah matang. Siap berlarian mengelilingi lapangan bola. tak lupa kutenteng pelastik kecil yang berisikan gula merah sebagai penambah energiku. Empat-enam putaran seakan belum cukup bagiku, walau kausku telah bermandi keringat dan rambutku memercik-mercikkan air asin. Bila langit senja, aku berputar-putar di halaman rumahku, malakukan latihan berbaris itu: menjadi pasukan sekaligus menjadi pemimpinnya. Berteriak-teriak: “Hadap kiri g’rak! Balik kanan g’rak!”, lalu anggota tubuhku mekaksanakannya. Begitulah selanjutnya. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari saja aku sudah seperti orang gila. Kemana-mana aku tak berjalan seperti biasa tapi setiap langkah kugunakan langkahtegap maju atau langkah biasa, jika berbelok kugunakan belok kanan atau belok kiri atau menggunakan haluan.
Kini, kelas sepuluh kulewati. Aku mendongak, kuingat lagi impian itu menjelang bulan Juni–bulan dimana seleksi pasukan Delapan dan Tujuh Belas itu akan dipilih. Satu setengah tahun sudah aku mematangkan gerakan LTBB-ku: Posisi sikap siapsempurna, bahu dibusungkan, tubuh tegap tak goyah oleh terpahan angin, tangan dan kaki rapat pada posisinya dengan kepalan tangan dalam TUS2, serta pandangan lurus kedepan, fokus pada satu titik bayang. Gerakan-gerakan dasar yang tepat: hormat tangkas dalam parade dan untuk perhatian. Jalan ditempat yang kokoh: bahu mantap tak bergoyang–posisi tubuh masih tegap, beban kaki terletak pada dengkul hingga mencipta gerakan yang segak tapi anggun. Hadap-menghadapnya: patah-patah. Sungguh sempurna LTBB-ku.
Teman aku telah lebih dari cukup bukan bila menjadi pembawa Baki Nasional itu. Atau aku berdiri dari satu petugas Tiga Tiang? Bagaimana pendapatmu?
♦♦♦
Aku menatap jarum jam yang makin lama makin berputar pelan, semakin pelan, lambat dan lama sekali–menurutku. Tepat pukul empat sore ini. Kak Ono pelatih Paskibraka Provinsi akan datang mengecek muda-mudi di SMA kami yang akan mengikuti seleksi Pasukan inti dan Sayap-sayapnya.
Pandanganku telah lekat ditiap detak jarum detik itu.
“Da! Kak Ono sudah berdiri di lapangan. Ia sudah memanggil penjuru3.” Teriak salah satu temanku dari tepi lapangan.
Aku bergegas masuk dalam barisan. Mengamati posisi aturan berbaris dari yang paling tinggi di saff depan banjar pertama–bagian kanan ialah penjuru, lalu, diurutkan tingginya, akupun ikut sibuk mengatur posisiku. Bukan! Aku pindah lagi kebelakang. Bukan juga. Aku mundur di baris paling kiri. Hingga aku baris hampir dua dari belakang.
Kusebarkan lirikan mataku dalam posisi kepala lurus memandang kedepan. Tidak teman, aku salah menilai diriku. Baru awal mentalku sudah jatuh. Lihat teman: Aku baris, tiga dari belakang, tahukah kau? Berarti aku tergolong bertumbuh pendek dibanding mereka. Banyak sekali muda-mudi yang bertubuh semampai. Aku kalut.
Tapi teman, semangatku tak putus. Kukeluarkan semua jurus LTBB-ku.
Lalu….
Tahukah kau aku menang! Kak Ono memujiku dalam tiga kalimat. Pertama, dari semua peserta seleksi: tubuhkulah contoh ideal. Kedua, ia menganugrahiku “Gerakan Matang”. Dan terakhir ia memperingatkanku: hati-hati pada tinggi badanmu! Untuk kau tahu tinggi mudi minimal 163 cm dan mudanya minimal 167 cm.
Aku bahagia bukan main. Semua teman-temanku memujiku. Aku diamanahi mematangkan semua gerakan-gerakan LTBB mereka. Dan dengan senang hati: aku menjadi guru baris-berbaris dadakan. Dengarlah dalam usia muda aku sudah memiliki murud-murid yang mereka adalah teman-temanku sendiri. Aku menang teman, karena semangatku.
♦♦♦
11 Mei 2007. hari penyeleksian dimana fisiklah yang menjadi patokan nilai. Mulai dari memeriksa parises, penyakit dalam, gigi, penyakit kulit, hingga berat dan tinggi tubuh. Semua peserta tes mengenakkan celana diatas dengkul dan baju kaos berlengan pendek, dengan mengalungkan Id Card di leher.
Giliranku masuk dan dicek fisik. Semua lancar teman tiada penyakit yang kuidap. Gigiku sehat, apalagi tubuhku, dan berat badanku ideal. Tapi petugas terakhir mengambil id card ku. Kuberikan saja, lalu aku beringsut keluar ruangan dengan hati bertanya-tanga??
Aku bersimpuh di batu sudut belakang ruang seleksi. Dalam diam kusebarkan pandangan pada muda-mudi yang berhamburan di depan mataku. Satu-persatu teman-teman se-SMA-ku menghampiri. Mereka menatap penuh tanya.
“Da, mana Id Card mu?” Ikhsan menunggu jawabanku.
Aku masih diam. Bayu juga bertanya dengan kalimat yang sama. Aku masih membisu. Lisga sudah lekatmenatapku. Mereka bergantian bertanya karena Id Card itu tidak melingkar di leherku lagi.
“Da, tidak mungkin kau gugur, Da?” Tata bertanya polos.
Aku tak kuasa menahan kenyataan. Bahu Bayu pun basah karena menyeka air mataku. Mereka semua mengolok-olokku.
“Aku Menjinjit sedikit tadi Da, jadi tinggiku pas.” Ujar Niko.
Tangisku semakin tumpah.
Aku mambatin: Andaikan hal itu kulakukan, kan kupagang Baki itu. Kuraih cita-cita itu, kutuai kerja kerasku. Namun, seribu keinginan itu terhembus jauh dengan satu tarikan nafas. Ribuan tanya terhapus untuk satu kata: kejujuran.
Dalam irama isakan, aku mendengar bermacam-macam ocehan mereka.
“Da, kita bilang sama Kak Ono ya, ayo.” Izul memberikan solusi.
Aku menarik nafas panjang. Kusapu semua dukaku. Kusadari kenyataan. Aku berdiri tegar. Kusalami mereka semua dan kubisikkan pelan: Selamat Berjuang!!
Aku berlari menjauhi tempat seleksi, menciptakan jarak antara teman-temanku. Kurasa air mataku terbang keudara hampa menjadi kilau-kilau cita. Kujinjing ransel, dengan secarik kertas dalam genggamanku dan kubuka, ada angka yang tergores ditelapaknya ‘162,5 Cm’.
♦♦♦
SMS di terima:
Da, aku terbang ke Jakarta.
Menginjak Istanah Presiden. Kan kusampaikan
jabat tanganmu pada Baki itu ya. Terima kasih
atas segalanya teman. Tata.(*)
16.23 Lubuklinggau, 11 Agustus 2009
*Teruntuk Kenangan–Alumni PAKSIBRA.
_______________________________
1.Singkatan dari Merah Putih Garuda.
2.Singkatan dari Tata Upacara Sekolah.
3.Muda-Mudi yang memiliki tubuh paling tinggi, baris di depan paling kanan, disebut sebagai Penjuru.
Biodata Penulis
Elida Nurhabibah lahir di Lubuklinggau, 17 Januari 1991. Mahasiswa STKIP-PGRI Lubuklinggau, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di. Cerpennya Bulan Tak Bertiang dibukukan secara antologi dalam Kumpulan Cerpen dan Puisi FLP Lubuklinggau Disebuah Ruang Kuliah Seorang Guru Bercerita (April, 2009). Ia merupakan peserta Temu Sastrawan Indonesia II di Bangka (Agustus, 2009), aktif berprestasi, diantaranya: Dari Puisinya Kiamat – meraih Juara II Cipta Baca Puisi (Puisitisasi Al-Quran) tingkat SMA Sumatera Selatan (Oktober, 2007). Pernah diundang membacakan Puisi di depan Gubernur Sumatera Selatan (dalam puisi tunggalnya Bintang Maha Putra) di Gria Agung Sumatera Selatan(2008). Juara I Lomba Baca Puisi se-SMA Tk. Bhayangkara Kota Palambang (2006). Saat ini Penulis berdomisili di Lubuklinggau–Sumatera Selatan.
berlari telanjang kaki gendong si bocah pucat pasi
keringat mengucur dari kulitanya
mengkilatkan daki yang melumutinya
di rumah sakit yang putih bersih
ia berhenti
berhenti dan merintih
terselip rasa bersalah karena ia kaum papa
tertikam dalam raut si bocah yang setia cumbui getirnya kota
sepertinya ia hanya bisa berkata;
“ibu hanya bisa memberi mimpi
maka mimpilah, mimpilah yang indah”
Bandung, 2009
Dengan Kata Dan Pena
aku adalah mata-mata
yang menggerakan tangan dan hati
tuk menggali fakta peristiwa
dan mengangkat sisi lain yang tak dijamah kita
demi mata, hati dan telinga yang berhak menerimanya
agar melangkah
dengan kata kuungkap realita
dengan pena kumengabadikannya
Bandung, 25 Januari 2009
Biodata
AL-Mauki Solihin lahir di Mauk-Tangerang, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Komunitas Getah Pena
Hidup ini memang dramatis, seraya kembali kepada beratus-ratus tahun yang lampau, pada zaman sitinurbaya. Aku tak dapat mempercayainya, ketika dia sudah menjadi milik seorang politikus, yang umurnya sudah begitu tua, muka yang bengis seraya parlente selalu terpancar olehnya.
Ini semua kualami ketika kuliahku berhenti ditengah jalan, memang penyakit yang begitu berat membuatku tak dapat meneruskan tahapan masa depan itu, sehingga aku terpaksa meninggalkan bangku kuliah dan kembali ke Sumatera untuk berobat jalan sesuai dengan anjuran Dokter yang memeriksaku.
“Amang, kamu pulang aja ke Medan, supaya kamu bisa berobat jalan, hingga kesehatanmu pulih kembali!” itulah kata-kata terakhir Ibuku saat mengetahui kesehatanku yang semakin kritis di Bandung. Perasaan sedih terasa berkurang, saat ibuku melanturkan kata-kata itu, untuk menyuruhku pulang. Aku juga tidak ingin penyakit ini menemani hayatku hingga ajal menjemputku, terutama harus meninggalkan Mercly kekasihku.
Aku sangat sulit meninggalkan kota Bandung, kota pendidikan yang penuh ketenangan dan kesejukan, dimana ilmu yang masih tergantung terpaksa kutinggalkan, terutama cinta yang sudah begitu lama kurangkai begitu indah tanpa pernah ada cela, terpaksa juga kutinggalkan.
Di bandara Sukarno-Hatta, dengan berat Mercly melepasku. Kata-kata terakhir yang kuungkapkan, untuk tetap menjaga keutuhan cinta kami, dibalasnya dengan anggukan yang lunglai. Aku dapat merasakan kesedihan itu, karna jiwa kami sudah menyatu menjadi satu. Kini sayap cinta sudah tak dapat lagi terbang, oleh jarak yang semakin menjauh.
Sedih, perih, perasaan itu selalu menemani disetiap hari-hariku, ketiku di Sumatera. rasa rindu yang berlebihan tak luput dari pikiranku, apalagi jika teringat saat-saat bersamanya, yang teramat indah. Sedikitpun tidak pernah bisa kulupakan, Walau nyawaku kini semakin tak punya harapan untuk dapat bertahan lebih lama lagi, namun kisah ini akan terus kuingat hingga akhir hayatku.
Memang pada saat itu komunikasi sudah begitu modern. sampai-sampai rasa rindu, tak terlalu berat langsung tertimpa dibenakkku, namun itu tak bertahan lama, rasa bosan akhirnya datang menghampiriku, karna rinduku, rindu ingin berjumpa, bukan rindu kata-kata yang itu-itu saja.
Disaat malam datang, tidur tak segampang orang-orang, sepertinya mata tak ingin melihat kegelapan. Terbayang, lalu memutar-mutar waktu mengingat-ingat suatu hal yang indah tentang perjalanan cintaku, yaitu saat-saat bersamanya. hal yang paling yang tidak bisa aku lupakan, ketika pertama kali kucurahkan isi hatiku, didepan gedung Sate, dipinggiran lapangan gasibu, kota Bandung. kata-kata yang sudah begitu lama kupendam meletus dahsyat, semua terhambur tanpa tersisa satu hurufpun. saat itu juga ciuman pertamaku mendarat di keningnya yang indah dan mungil.
Di Sumatera, aku selalu mengikuti anjuran dokter dan berdoa supaya penyakit yang menemani hidupku pergi sejauh mungkin. aku selalu berharap bisa pulih kembali, sehingga aku dapat meneruskan kuliahku yang sudah lama kutinggalkan, terutama bertemu dengan Mercly kekasih hatiku.
dokter yang ada di Bandung telah memvonis penyakitku ini tak mungkin sembuh, tetapi aku sangat yakin kalau suatu saat nanti mujijat Tuhan pasti menghampiriku, karena Dokter itu juga manusia, sama sepertiku yang tidak pernah bisa menentukan batas umur seseorang.
Kini aku sudah merasa lebih sehat dari hari-hari sebelumnya. semua ini didorong oleh keinginanku yang begitu besar untuk bisa kembali ke bangku kuliah, hingga meraih gelar sarjana yang sudah lama terpendam disaraf-saraf otakku, karena gelar itu adalah tahapan untuk meraih cita-cita, Menuju kebahagiaan bersama Mercly kelak.
Siang itu Dokter baru saja memeriksa kesehatanku. dari wajahnya yang begitu cerah berbinar, aku dapat menebak bahwa kesehatanku sudah berangsur membaik.
“ Aku sudah sembuh Dok ? “ aku tidak sabar mendengar jawaban yang keluar dari mulut dokter itu.
“ Kamu sudah mulai sembuh nak, sepertinya ini suatu muzijat, karena kangker yang ada di paru-parumu selama ini, sudah hilang, tapi kamu masih butuh perawatan sampai kesehatanmu pulih kembali.”
Hatiku kini sudah terasa lega dan senang. ternyata doaku selama ini sudah dikabulkan olehNya.
“ Terimakasih Tuhan atas kesembuhan yang telah kau berikan untukku. ”
Jiwa ini terasa damai oleh muzijat Tuhan yang sangat luar biasa dan tak pernah bisa diselami atau ditebak oleh siapapun.
Tak sabar rasanya memberitahukan kesembuhan ini untuk Mercly, dia pasti senang mendengarnya, karena kesembuhanlah yang kami tunggu selama ini.
“ Kekasihku yang anggun, Dengarkanlah kata-kata yang sudah begitu lama kita nanti, Yaitu penyakit yang sudah lama bersamaku, Kini sudah meleleh dan hilang. ini semua karena doa dan keinginan kita untuk dapat selalu bersamamu. ”
Itulah kata-kata yang kukirimkan pada mercly saat itu, tetapi sudah berapa lama aku menunggu jawaban, namun tak kunjung datang. hingga malam tiba, sampai aku tertidur menunggu balasan darinya.
Disaat pagi aku terbangun dari tidurku, ternyata ada suatu pesan, aku sangat berharap itu datangnya dari Mercly, setelah kubuka, ternyata benar itu pesan dari Mercly.
“Duhai bang Jeck kekasihku yang tercinta. Aku senang mendengar kesembuhanmu, tapi aku berharap kau dapat melupakanku, Karena keluargaku tidak setuju atas hubungan kita. Mereka bilang aku tak bisa mencintai orang yang penyakitan, yang tak punya masa depan nantinya. Mereka sudah menjodohkanku dengan laki-laki lain dan memaksaku untuk menikah dengannya. “
Air mataku menetes, seperti hujan saat mentari masih menyinari bumi, dan tak dapat kubendung lagi. rasa benci, marah dan kata- kata yang tak pernah kuucapkan sebelumnya keluar begitu saja dari mulutku. kesedihanku bukan hanya pada diriku, tetapi juga melihat Mercly yang harus menikah dengan orang yang tidak pernah dia cintai sebelumnya. aku tak akan rela melihat dia menderita karena paksaan dari orangtuanya yang begitu berat ditujukan padanya.
“Prak…….”
Handphon yang tadinya kugenggam kubuang begitu saja. mencoba mengeluarkan semua amarah dan benci yang datang seketika itu juga.
“ Tuhan, hinanya diriku ini, digubris begitu saja, apakah aku ini memang manusia yang penyakitan yang tak pernah punya masa depan, dihina, dicela dan ditinggalkan begitu saja? ”
Melihatku kecewa, pipi Ayah basah oleh air mata, karena dari dulu Ayah sudah tahu hubunganku dengan Mercly, apalagi dia sangat menyetujuinya. melihat itu, aku semakin marah kepada keluarga Mercly,karena selama hidupku, aku tak pernah melihat Ayah meneteskan air mata, tapi hari ini air mata itu menetes membasahi pipinya yang sudah bertahun-tahun kering.
“ Amang, kamu yang sabar ya! mungkin dia bukan jodohmu, Ayah yakin kamu pasti mendapatkan yang lebih dari dia dan kamu harus janji pada Ayah, kamu harus semangat menjalani hidup ini dan melupakan masa lalumu bersama Mercly, karna Ayah akan semakin sedih mendengarmasa depan kamu hancur karna dia. “
Kata-kata Ayah membuatku semakin menyadari arti semua cobaan ini, tapi melihat air mata Ayah aku tak tahan menahan amarah, hatiku semakin meraung-raung. andaikan aku Singa, aku akan merobek-robek dan menelan bulat-bulat lelaki yang berani merebut Mercly dariku, bahkan Ayah dan Ibu Mercly yang masih memiliki hubungan keluarga dengan kami, tega menghinaku serendah itu, rasanya aku ingin memutuskan hubungan keluargaku dengan keluarganya.
Tak berselang beberapa bulan pesan dari Mercly datang lagi, tapi pesan tersebut dikirimkan ke handphon Ayah. Handphonku pada saat itu sudah tak ada lagi, karena sudah kubuang bersama pesan-pesan dari mercly yang begitu banyak kusimpan di memori.
“ Bang Jeck , aku minta maaf sedalam-dalamnya untukmu, karena aku tak dapat menolak permintaan keluargaku, untuk menikah dengan lelaki yang tak pernah kukenal apalagi mencintainya, tapi keluargaku sangat bersikeras dan memaksaku supaya menikah dengannya. Mereka mengancamku, jika aku tak menikahinya aku akan diusir dan tak dianggap anak mereka lagi. Minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan di Sumatera, mudah-mudahan abang bisa mencari penggantiku. Aku berharap abang datang pada acara pernikahan itu, karena jika abang datang, abang berarti sudah memaafkanku, karena maaf darimu akan mengurangi penderitaanku menikah dengan orang yang tak pernah kucintai, terutama harus berpisah darimu. ”
Pesan yang ditulis Mercly, Ayahku jugalah yang pertama membacanya. awalnya Ayah tidak beranimemberitahukannya kepadaku, dia takut aku bisa berbuat nekad, tetapi Ayah tak mungkin bisa merahasiakannya dariku, karena suatu saat aku pasti mengetahuinya, apalagi pernikahan itu dilangsungkan di Sumatera, yaitu di kampung halaman kakek dan nenek Mercly yang tak jauh dari kampungku, Lagi pula keluargaku pasti akan diundang ke acara pernikahan itu, karena hubungan keluarga kami masih begitu dekat, disebabkan kakek Mercly dan nenekku masih kakak-beradik
Kini hatiku dapat sedikit lega oleh permohonan maaf yang tulus dari Mercly. tapi aku tak pernah bisa melupakan dia begitu saja,karena cinta yang sudah lama kami jalanisudah menggores setengah dari hatiku dan penuh apabila dia sudah menjadi miliku seutuhnya.
Pada hari pernikahan itu Ayah menyuruhku supaya tidak datang ke acara itu, aku tahu tujuan ayah, dia tak rela aku berlarut-larut dalam kesedihan, apalagi harus menyaksikan itu semua. tapi aku bersikeras, aku ingin melihat laki-laki yang menjadi pendamping mercly selamanya.
Kaki yang terasa berat untuk melangkah dan rasa kecewa kubawa bersama, kupaksa untuk berjalan, menyaksikan kekasihku dipersatukan dengan laki-laki lain yang tidak dicintainya.
Setiba disana, aku tersentak kaget melihat lelaki yang menikah dengan kekasihku itu, ternyata seorang politikus yang umurnya sudah begitu tua, muka yang bengis seraya parlente, selalu terpancar olehnya. itulah kata-kata yang pertama muncul dari pemikiranku ketika pertama melihatnya.
Amarahku menggelegar, ingin rasanya acara pernikahan itu kuhancurkan supaya Mercly tak jadi menikah dengannya,kemarahanku memuncak ketika dia mengecup kening Mercly, tepat dimana dulu aku menciumnya, tapi aku terpaksa menahan amarah itu. Aku tidak mau mempermalukan kedua orangtuaku.
Ketika usai pemberkatan, hatiku tak dapat berkata apa-apa lagi. Kini aku sadar usai pulalah harapanku untuk mendapatkan Mercly untuk bersama denganku selamanya. merelakannya, itu suatu paksaanyang harus kulakukan, karena aku tak dapat memungkiri itu.
Tidak jodoh, mungkin itulah kata yang dapat merangkum kisah cintaku bersama Mercly. dengan rasa yang sangat berat dan sedih aku terpaksa meninggalkan itu semua.
”Selamat tinggal mantan kekasihku sayang, semoga kau dapat berbahagia bersamanya”. Itulah kata-kata terakhir yang tercurah dari hatiku yang kelam.
Sigodang-Bandung, 2008
Biodata
De Ferdinan Saragih, lahir di Sigodang, Simalungun, 4 Desember 1988. Mahasiswa Sastra Indonesia UPI Bandung. Mengelola Komunitas Getah Pena. Karyanya pernah di publikasikan berbagai media massa, juga termuat di dua antologi bersama.
didirikan 16Oktober 2009 di On-line Blogspot, yang beralamat di: www.getahkata.blogspot.com oleh De Ferdinan Saragih (kelahiran di Sigodang, Simalungun, Sumut, 4 Desember 1988. Mahasiswa Sastra Indonesia UPI Bandung. Karyanya pernah di publikasikan di media masa, juga termuat di beberapa buku antologi bersama.)
Getah Pena???
Menurut KBBI getah n 1 zat cair pekat dari batang kayu, buah-buahan, dsb yang bersifat melekat: --jarak; --kemboja; --nangka; --sawo; 2 Zat cair pekat dr pohon karet (perca).
Jika Pohon karet (perca) setiap hari di gores, maka dia akan selalu mengalirkan getah, yang pekat dan melekat. Begitulah Getah Pena terwujut sebagai Komunitas yang selalu menggores pena untuk menghasilkan sebuah karya yang pekat, dan melekat di kalangan pembacanya.
Tujuan didirikannya Komunitas Getah Penaini yaitu: untuk Mendorong Semangat kepenulisandi kalangan muda muda, Yang benar-benar ingin menjadi Penulis Yang handal.
Menulislah, supaya orang lain tau anda pernah ada.
Cara bergabung
Jika Sobat Ingin Bergabung di Komunitas Getah Pena ini, Sobat Tinggal Tulis SMS dengan Format:
Jika sobat ingin mengirimkan Tulisan ( Puisi, Cerpen, Cerbung, Info Lomba, Ucapan dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan) kirim saja Ke e-mail: getahpena@yahoo.com, beserta biodata singkat, No Hp, dan E-mail. Jangan lupa konfirmasi lewat SMS ke nomor diatas. Format bebas.
Mengirim Lewat SMS
Sobat bisa juga mengirimkan Puisi/Ungkapan lewat SMS ke No:08987005208 dengan Format:
Nama#Isi Puisi/Ungkapan/Pengumuman/saran
Contoh:
De Ferdinan Saragih#kaulah padi unggul yang kusemai di hatiku
Mari bersama-sama belajar, menulis, tertawa, berbagi di sini